PELAJARAN SOSIAL DAN POLITIK BAGI PEMIMPIN GAMPONG DI KABUPATEN PIDIE JAYA
Abstrak
Tulisan ini menganalisis fenomena sosial dan moral ketika sebagian pemimpin, baik di tingkat pusat maupun lokal, termasuk dalam konteks pemerintahan gampong di Kabupaten Pidie Jaya, mulai menganggap rakyatnya tidak tahu apa-apa, bodoh, dan tidak peduli terhadap urusan pemerintahan. Cara pandang seperti ini tidak hanya berbahaya bagi demokrasi lokal, tetapi juga mengancam keutuhan sosial dan rasa saling percaya antara pemimpin dan masyarakat.
Melalui pendekatan reflektif dengan teori kekuasaan Foucault dan konsep illusio dari Bourdieu, tulisan ini menunjukkan bahwa rakyat gampong sebenarnya memiliki kecerdasan sosial tinggi, tetapi memilih diam sebagai bentuk kontrol moral terhadap perilaku elit yang kehilangan arah etik. Oleh karena itu, pemimpin gampong di Pidie Jaya perlu menumbuhkan kesadaran baru: bahwa kekuasaan bukan untuk merasa lebih tahu, melainkan untuk membuka ruang belajar bersama.
Kata Kunci: Kepemimpinan Gampong, Kesadaran Sosial, Kekuasaan, Pidie Jaya, Kepercayaan Publik
1. Pendahuluan
Dalam konteks Aceh, khususnya Kabupaten Pidie Jaya, gampong adalah ruang peradaban kecil tempat nilai-nilai demokrasi tumbuh paling nyata. Di sinilah rakyat bertemu langsung dengan kekuasaan. Namun, di banyak tempat, muncul fenomena yang mengkhawatirkan: sebagian pemimpin gampong mulai merasa lebih tahu dari masyarakatnya sendiri, menganggap warga tidak paham aturan, dan memandang kritik sebagai gangguan, bukan sebagai masukan.
Padahal, sejarah Aceh mengajarkan bahwa kekuatan masyarakat selalu lahir dari kesadaran kolektif, bukan dari otoritas tunggal. Ketika pemimpin gampong kehilangan kemampuan mendengar rakyatnya, maka ia sedang menutup mata terhadap sumber kebijaksanaan terbesar: pengalaman hidup masyarakat itu sendiri.
Fenomena “meremehkan rakyat” bukan sekadar salah sikap, tetapi juga tanda kegagalan memahami hakikat kekuasaan sebagai amanah (trusteeship), bukan kepemilikan pribadi. Dalam konteks ini, penting bagi kita semua di Pidie Jaya — aparatur, pendamping desa, dan warga — untuk belajar dari kesalahan tersebut agar pemerintahan gampong menjadi ruang pembelajaran sosial, bukan arena pementasan ego.
2. Landasan Teori dan Perspektif Akademik
2.1. Kekuasaan sebagai Pengetahuan (Michel Foucault)
Menurut Foucault, kekuasaan tidak pernah terlepas dari pengetahuan. Ketika pemimpin memonopoli pengetahuan, ia sesungguhnya sedang membungkam rakyat. Namun dalam masyarakat modern — termasuk gampong — pengetahuan tidak lagi milik elit. Masyarakat kini mampu membaca regulasi, memahami data, dan memantau anggaran melalui teknologi informasi. Karena itu, pola kepemimpinan lama yang menempatkan warga sebagai pihak pasif sudah tidak relevan lagi di Pidie Jaya yang sedang bergerak menuju tata kelola pemerintahan terbuka.
2.2. Ilusi Kekuasaan (Pierre Bourdieu)
Bourdieu menyebut fenomena illusio kekuasaan, yakni ketika seseorang meyakini bahwa simbol jabatannya adalah kebenaran itu sendiri. Dalam konteks gampong, illusio bisa muncul ketika seorang keuchik merasa dirinya pusat segala keputusan tanpa melibatkan masyarakat, tuha peut, atau lembaga perempuan dan pemuda. Padahal, gampong yang sehat tumbuh dari dialog sosial, bukan dari perintah tunggal.
2.3. Kearifan Lokal sebagai Penyeimbang Kekuasaan
Dalam adat Aceh, dikenal prinsip “Hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut” — hukum dan adat tidak terpisahkan. Nilai ini mengandung makna bahwa kekuasaan tanpa adab adalah kosong. Rakyat Aceh, termasuk di Pidie Jaya, memiliki sistem nilai yang kuat dalam menilai kepemimpinan. Mereka tahu siapa yang memimpin dengan hati, dan siapa yang memimpin dengan kepentingan. Di sinilah letak kecerdasan sosial rakyat yang sering diremehkan.
3. Analisis dan Pembahasan
3.1. Ketika Keuchik Merasa Rakyat Tidak Tahu Apa-Apa
Ada kecenderungan sebagian pemimpin lokal yang menilai bahwa masyarakat tidak memahami mekanisme dana desa, musyawarah, atau prosedur administratif. Padahal, di banyak gampong, masyarakat justru sangat paham, hanya saja mereka tidak ingin mempermalukan pemimpinnya di ruang publik. Mereka diam, tetapi tahu siapa yang jujur dan siapa yang bermain.
Fenomena ini menegaskan bahwa diamnya rakyat bukan ketidaktahuan, melainkan bentuk penghormatan sosial. Namun bila kesabaran rakyat diuji terlalu lama, diam itu bisa berubah menjadi penolakan moral yang sulit dikembalikan.
3.2. Bahaya Psikologis: Pemimpin yang Kehilangan Empati
Ketika seorang keuchik atau aparat merasa paling tahu, maka ia mulai kehilangan empati sosial. Dalam psikologi kepemimpinan, kehilangan empati berarti hilangnya kepekaan terhadap penderitaan rakyat. Hal ini terlihat ketika keputusan-keputusan diambil tanpa mempertimbangkan kebutuhan nyata masyarakat — misalnya memprioritaskan proyek yang tidak relevan dengan kondisi sosial gampong.
Pemimpin yang tidak peka lambat laun akan kehilangan dukungan moral. Dan dalam masyarakat kecil seperti gampong, kehilangan kepercayaan berarti kehilangan segalanya.
3.3. Rakyat yang Diam: Cermin Kebijaksanaan Kolektif
Di Pidie Jaya, budaya diam masyarakat sering disalahartikan. Diam bukan tanda takut, tetapi tanda kecerdasan sosial. Mereka tahu kapan berbicara dan kapan menunggu. Mereka tidak berteriak di depan forum, tetapi menyampaikan pandangan melalui isyarat sosial — lewat pertemuan kecil, sikap sehari-hari, atau bahkan cara mereka memilih dalam pemilihan berikutnya.
Rakyat tidak bodoh. Mereka sekadar memilih cara yang lebih bermartabat untuk menyampaikan penilaian.
3.4. Implikasi Sosial: Retaknya Kepercayaan Publik di Tingkat Gampong
Ketika kepercayaan antara rakyat dan pemimpin gampong retak, dampaknya terasa luas. Musyawarah menjadi formalitas, partisipasi menurun, dan semangat gotong royong melemah. Padahal, kekuatan gampong Aceh sejak dulu terletak pada modal sosial: meusyawarah, meugaseh, dan meuripee.
Untuk mengembalikan kepercayaan, pemimpin harus membuka ruang dialog, mengakui keterbatasan, dan memulihkan nilai-nilai adat sebagai pedoman moral kepemimpinan.
4. Refleksi dan Pelajaran untuk Pemimpin Gampong
Ada beberapa pelajaran penting yang perlu diambil oleh para pemimpin gampong di Kabupaten Pidie Jaya:
- Jangan pernah meremehkan kecerdasan rakyat. Mereka mungkin tidak bicara dengan bahasa akademik, tapi mereka memiliki kebijaksanaan moral yang jauh lebih dalam.
- Bangun ruang musyawarah sejati. Setiap keputusan yang tidak melibatkan warga akan kehilangan legitimasi sosial.
- Kuasai ilmu, tapi jangan kehilangan adab. Ilmu membuat pemimpin kuat, tetapi adab membuatnya dihormati.
- Gunakan kekuasaan sebagai ruang belajar. Kepemimpinan gampong adalah amanah sosial, bukan alat menunjukkan siapa yang lebih pintar.
- Hormati diam rakyat. Karena dalam diam mereka, ada doa, penilaian, dan keputusan yang tak bisa dibeli oleh kekuasaan apa pun.
5. Kesimpulan
Kekuasaan yang meremehkan kesadaran rakyat akan hancur oleh kebijaksanaan rakyat itu sendiri. Di Kabupaten Pidie Jaya, rakyat gampong bukanlah massa yang tidak tahu apa-apa, melainkan komunitas yang mengerti, hanya saja memilih diam karena menghargai harmoni sosial.
Tugas pemimpin gampong hari ini bukan menaklukkan warganya, tetapi menuntun dengan hati. Karena sesungguhnya, di dalam jiwa setiap rakyat gampong tersimpan kecerdasan sosial yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan penguasa.
Kepemimpinan sejati adalah seni memahami diam rakyat — bukan menindasnya, tetapi menafsirkannya sebagai panggilan untuk memperbaiki diri dan menata kembali arah pengabdian.
***
Disarikan Kembali Dari:
- Foucault, M. (1980). Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings 1972–1977. Pantheon Books.
- Bourdieu, P. (1991). Language and Symbolic Power. Harvard University Press.
- Scott, J. C. (1990). Domination and the Arts of Resistance: Hidden Transcripts. Yale University Press.
- Habermas, J. (1984). The Theory of Communicative Action. Beacon Press.
- Goleman, D. (2006). Social Intelligence: The New Science of Human Relationships. Bantam Books.
- Malik, A. R. (2020). Kepemimpinan Lokal dan Budaya Politik di Aceh. Banda Aceh: UIN Ar-Raniry Press.
- IMPS Pidie Jaya. (2024). Refleksi Tata Kelola Gampong dan Partisipasi Masyarakat. Laporan Tahunan.
0 Komentar